Karya Tulis Ilmiah
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA
Pengantar: Prevalensi penyakit tidak menular selalu meningkat tiap tahunnya. Beberapa kasus penyakit tidak menular yang tertinggi di Indonesia yaitu stroke dan penyakit kardiovaskuler. Pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan penyakit jantung koroner. Menurut data Kemenkes RI (2015) menyebutkan bahwa hipertensi adalah penyakit tertinggi yang diderita oleh lansia (Kemenkes, 2015; Riskesdas, 2013). Prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk umur ≥18 menurut Provinsi menunjukan bahwa Provinsi Kalimantan Selatan menduduki peringkat tertinggi dengan persentase sebesar 44,13% sedangkan Provinsi Papua menduduki peringkat terendah dengan persentase sebesar 4,39%. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi pada lansia terdiri dari dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi. Untuk faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia, jenis kelamin dan riwayat keluarga. Dan faktor yang dapat dimodifikasi adalah konsumsi junk food, aktivitas fisik, asupan natrium, asupan lemak, merokok, stress, obesitas, konsumsi alkohol, konsumsi kopi dan konsumsi soft drink. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi literatur, penyaringan literatur menggunakan mesin pencarian Google Scholar. Hasil: Enam artikel/ Literatur memenuhi kriteria inklusi dan telah dipublikasi pada rentang waktu tahun 2016-2020 dengan pembagian sebagai berikut; 1 studi dipublikasi pada tahun 2016, 1 studi dipublikasi pada tahun 2017, 1 studi dipublikasi pada tahun 2018, 2 studi dipublikasi pada tahun 2019, 1 studi dipublikasi pada tahun 2020. Kesimpulan: Kebiasaan merokok belum dapat dikatakan secara definitif sebagai faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi pada lansia. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia.
Tidak tersedia versi lain